Muh Johan

5 Langkah Cegah Depresi: Istirahat Hingga Jaga Keintiman

loading...
Bahaya Depresi Pasca Melahirkan

Depresi pasca melahirkan tidak akan muncul secara tiba-tiba. Jika ibu mengalami banyak masalah saat kehamilan, risiko mengalami depresi pasca melahirkan tentu saja akan lebih besar.

Meski begitu, bukan berati depresi pasca melahirkan tak bisa dicegah. Pakar mengatakan dengan lingkungan sosial yang suportif dan pasangan yang baik, sejatinya depresi tidak akan muncul.

"Faktor risikonya kan ada tiga yang utama, yakni riwayat genetik, gangguan medis selama hamil dan tidak ada dukungan keluarga saat hamil," tutur dr Andri, SpKJ, FAPM, dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, sembari menegaskan jika tiga faktor ini ditangani dengan baik, maka depresi akan bica dicegah.

Baca juga: Pakar Ingatkan Pentingnya Peran Suami Bagi Ibu yang Depresi

Nah, untuk langkah pencegahan, apa saja yang bisa dilakukan? Dirangkum dari berbagai sumber, berikut 5 di antaranya:

1. Cukup istirahat

Usai melahirkan, ibu akan menghadapi rutinitas baru seperti anak yang rewel, bangun tiap 2-3 jam, dan aktivitas lain yang membuat ibu merasa lelah. Untuk itu perlu bagi ibu untuk mendapat waktu istirahat yang cukup.

Untuk menyiasatinya, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menyewa asisten rumah tangga. Jika ibu menyusui, tidak ada salahnya juga memerah ASI sehingga ART atau baby sitter bisa memberikan ASI ketika ibu tidur.

2. Me time for mom

Pemenuhan me time sangat penting agar ibu bisa memberikan perhatian penuh kepada anaknya. Jangan sampai perhatian ibu hanya terpusat untuk mengurus anak atau rumah, yang dapat menyebabkan ibu mengalami stres.

Usahakan untuk menyediakan waktu melakukan hal-hal yang disukai dan bisa membuat rileks. Untuk itu, jangan segan meminta bantuan orang lain untuk menjaga sejenak si kecil sementara ibu menikmati me time-nya.

3. Suami yang suportif

Seperti disinggung sebelumnya, suami yang suportif penting bagi kesehatan mental ibu. Suami yang suportif pasti paham jika istrinya sedang stres atau memiliki beban psikis yang berat.

Maka dari itu, komunikasi penting untuk dilakukan. Apalagi dalam masalah mengurus anak, suami atau istri bisa saling membagi tugas.

4. Pertahankan kontak sosial

Memiliki anak bukan berarti Anda harus mengisolasi diri dari pergaulan. Tetap jalin hubungan dengan orang di sekitar, termasuk tetangga atau teman. Dengan begitu, Anda juga bisa mendapatkan suasana baru.

Cara sederhana adalah mengobrol dengan tetangga ketika menjemur si kecil. Atau dengan memanfaatkan teknologi video call, ibu bisa menghubungi orang tua atau bahkan suami dari rumah.

5. Tetap intim dengan pasangan

Baik suami atau istri memang memiliki kewajiban untuk bersama-sama mengurus si kecil. Salah satu kunci agar kekompakan dengan pasangan untuk mengurus si kecil yakni dengan mempertahankan keintiman dengan suami atau istri.

Walaupun mengurus si kecil, usahakan keintiman dan romantisme tetap terjalin. Tetap intim dengan pasangan menciptakan keterbukaan dan keharmonisan dalam rumah tangga. Jangan salah, depresi yang dialami bisa menyebabkan rumah tangga tidak harmonis dan berujung pada perceraian.

Resource: health.detik.com